dunia Imaji Qta
Ku tebarkan semua imajiku dalam rangkaian kata membentuk alunan irama kehidupanku yang tak tentu arah
17/03/10
13/03/10
seru-seruan
phutu-phutuku di teater
Klo yg ne waktu Qta ngdain latam,paz acara mandi lumpur gt,,,


Label: foto Qta
emansipasi kartini
Monolog
EMANSIPASI
KARTINI
“Mohammad Junaedi Wijaya”
EMANSIPASI
KARTINI
“Mohammad Junaedi Wijaya”
Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita wanita negeri ini sudah terbata bata membaca cita citaku.
Aku dikungkung adat dan barat menuntunku, tapi aku selalu memcoba meratas jalan menuju kemerdekaan dan ternyata tak seorang pun melanjutkan perjuanganku.
Sesungguhnya adat sopan santun amatlah rumit, adikku harus merangkak bila hendak berlalu dihadapanku, kalau adiku duduk dikursi lalu aku berlalu maka haruslah segera turun dari kursi duduk ditanah bahkan dengan menundukan kepala sampai aku tidak terlihat. Adikku tidak boleh berkamu atau berengkau kepadaku dan setiap akhir kalimat harus dibarengi dengan sembah.
Peduli apa dengan segala tata cara itu, segala peraturan itu bikinan manusia dan menyiksaku. Manusia harus merdeka, semua sama dan kita semua saudara. Manusia itu sederajat dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama, tidak seperti sekarang, para kaum ningrat pasti bahagia tapi kaum marginal akan hidup diselokan selokan penderitaan dan kematian siap menanti.
Keningratan darah untuk masa kini sudah menjadi barang antik di museum. Kini muncul keningratan keningratan baru, keningratan title, keningratan pangkat, keningratan jabatan dan pucak dari semua keningratan itu adalah keningratan ekonomi. Siapa yang paling banyak uang berarti dia yang dapat mengatur keadilan dan keputusan pengadilan.
Sungguh aneh, mereka yang mengaku “ Kartini Kartini Masa Kini “ tidak menentang keningratan keningratan baru, bahkan sebagian besar mereka menjadi pemujanya atau penjilat. Aku hanya percaya akan dua keningratan, pertama keningratan fikiran dan yang kedua keningaratan budi, apa gunanya bergelar graaf atau baron.
Wanita wanita kini mengurai kembali benang yang telah kupintal, mereka hanya merayakan hari kelahiranku tapi itu semua hanya mengecilkan arti perjuangaku selama ini. Wanita wanita kini telah maju kebelakang, kita belajar sejarah, bahwa manusia itu unik, keunikan manusia itu : dia belajar sejarah tapi tidak pernah belajar dari sejarah.
Aku tidak boleh bergaul dengan kaum dibawah keningaratan aku, tapi sekarang semua bebas dan hanya ada dua perbedaaan, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.semua temanku adalah musuhku, mr. Abendanon dan istrinya seorang utusan dari pemerintah belanda untuk melaksanakan politik etis, dia meminta bantuan dan nasihat dari snouck Hurgronye yang memiliki konsep politik asosiasi yang bertujuan agar generasi Indonesia tercabut dari akarnya terutama Islam. Snouck Hugronye menyarakan agar abendanon mendekati aku, maka aku berkawan dengan keluarganya. Musuhku tidak seperti jaman sekarang, musuhku adalah temanku, temanku adalah musuhku. Mulai dari stella, anie glasser, dr andriani, Vam kol. Mereka semua hanya memanfaatkanku semata.
Laksanakan cita cita, bekerjalah untuk masa depan, bekerjalah untuk kebahagian beribu ribu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham paham palsu. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi untuk kepentingan abadi.
Aku pernah menulis surat untuk kakak laki lakiku, kalau kelak mempunyai anak laki laki, lebih baik biarlah mereka menjadi tukang roti bakar atau apalah yang sejenis ketimbang masuk korps pegawai negeri, alangkah banyak ketidakjujuran dan banyak menipu hati nurani.
Aku tidak mengerti wanita sekarang, mereka keluar rumah tanpa pamit pada suami, apakah pantas sebagai manusia beragama, dalam islam suami harus dihormati, dalam Kristen suami istri harus saling menghargai dan mengasihi, tapi apabila tidak ada didalam keduanya, apakah masih bisa disebut manusia beragama.
Aku merasakan apa yang kalian rasakan, aku rasa, kita perlu referansi ilmu dari barat tapi bukan menjadi manusia barat, apa kita tidak malu ketika kita mengatakan dan tertera di dalam KTP kalau kita Islam atau Kristen masih suka berzinah seperti orang orang barat, apakah itu yang disebut bagian dari gaya hidup bangsa ini
Aku punya dendam ketika para pegawai negeri tidak bisa berlaku adil, aku dendam ketika beribu ribu ibu menangis karena kehilangan anak, tidak bisa menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya, bukankah Indonesia kaya akan minyak tapi kenapa harus diexpor keluar negeri, mereka sama dengan adipati adipati bermuka dua dijamanku.
Lebih baik jangan pernah memperingati hari kelahiranku apabila emansipasi lebih condong liberalisme atau feminisme.
Jadikanlah rumahmu istanamu, kembalilah ke rumahmu karena bagunan materi betapapun menjulang tinggi tidak akan ada artinya jika dibangun di atas rumah tangga yang rapuh, ingatlah, kehancuran rumah tanggamu berarti kehancuran masyarakatmu, negaramu dan duniamu
Aku mohon agar anak anak bangsa dapat memperoleh pendidikan terutama wanita, bukannya sekali sekali karena kami menginginkan anak anak perempuan itu menjadi saingan laki laki dalam perjuangan hidupnya.
Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, tapi wanita wanita negeri ini sudah terbata bata membaca cita citanya.
Kian hari emansipasi kian mirip dengan liberalisme dan feminisme, sementara aku sendiri semakin meninggalkan semuanya dan kembali kepada fitrahnya
3 Mei 2008, pkl 16. 24 WIB
Label: kumpulan naskah teater
monolog
Monolog SSt Diam oleh Giri Ratomo
Sabtu, 2007 November 10
sttt….diam!
Sebuah naskah untuk berlatih monolog. Setting sunggung dibuat tidak ribet, sangat sederhana.
Panggung masih kosong melompong. Sekilas samar-samar terlihat tiang yang tegak menjulang, tak terlalu tinggi. Perlahan lahan areal panggung yang tadinya gelap mulai meremang setelah lampu yang terletak tepat di atas tiang mulai menyala.
Entah dari sudut mana tiba-tiba muncul seseorang terhuyung-huyung hampir jatuh dengan barang bawaan yang berupa kotak yang cukup banyak. Pasti, orang tersebut berusaha keras mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Kotak-kotak tersebut diletakkan persis dibawah tiang.
Akhirnya nyampai juga. Gara-gara elu gua hampir jatuh keselokan tadi, kurang ajar! Dasar kagak tahu diuntung ! Capai-capai ngebopong bukannya dikasih upah malah mo dijatuhin ! Awas lu ntar kalo macem-macem lagi bakalan gua gebug , mampus !
(Orang itu sibuk menata kotak yang di bawanya persis di bawah tiang, kemudian di duduki)
Eh lu, untuk sementara ini lu diam aja ya! Kagak usah macem-macem, kagak boleh ribut ..aa..untuk sementara lu juga kagak boleh protes kalo sekarang gua ngerokok !
Nah kayak gitu, diaam. Kata orang diam itukan emas, nah, siapa tahu kalau lu bisa diam gua bisa dapet emas..eit, jangan protes nyuruh gua diam, sebab kalau gua yang diam lu kagak bakalan dapet emas.
(Menyalakan rokok)
Hah …hidup jaman sekarang emang serba susah, kalau mau di buat susah. Hidup juga serba gampang kalau kita gampangin.
Ya susah ya gampang, tinggal kitanya.
(mengusap-usap salah satu kotak) Kita. Lha..misalnya ya kaya Aku sama kamu ini, bi patner tugeder. Seperti muka uang logam, sisi yang satu butuh sisi lain. Terus terang kalau aku buka-bukaan sampai detik ini aku masih butuh kamu
Ee…diem aja. Ngomong. Kamu itu kalau aku suruh diem, kamu nyerocos. Kalau aku suruh ngomong, kamu diem. Ngomong. Ayo. Ngga nyesel kalau kamu diem?
Ya sudah. Kalau kamu diem terus. Aku yang ngomong.
(Mengangkat kotak-kotak kayu, memindahkannya di salah satu pojok)
Meski orang bilang kata-kata adalah ular mematikan yang keluar dari lobang hitam dan lidah adalah pedang bermata dua yang siap menikam, tapi tak apa. Toh, saya sudah berada disini. Di ruangan ini sendirian. Sementara berpasang-pasang mata menatap tajam kearah saya dan bertanya-tanya. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang berbisik bisik seolah-olah saya asing dan aneh. Berbeda dengan mereka. Ah, kecurigaan macam apa ini? Kecurigaan yang membuat saya harus tertunduk layu ke batu. Tetapi, bukankah kekuasaan ratu Elizabeth yang besar pun dibangun karena rasa kecurigaan yang sedemikian kental? Dan bukankah kecurigaan pula yang telah membawa manusia untuk menjelajahi samudera raya dan melewati sekian tahun cahaya hanya untuk menggenapi sebuah pertanyaan : siapa?
Saya duduk di ruangan ini sebab saya akan menanda tangani kontrak. Sebuah kontrak perjanjian antara saya dengan pemilik ruangan ini. Kebetulan sekali antara saya dengan beliau ada sebuah kesamaan kesenangan.
Saya senang mengubah sesuatu yang mungkin menjadi tidak mungkin ataupun yang ada menjadi tidak ada, sedang pemilik ruangan ini paling senang memutar balikan segala keadaan.
Sstt ..apakah suara saya terlalu keras? Saya takut kalau rahasia ini bocor. Atau mungkin saya sebaiknya yang mengalah?
Baiklah akan saya coba bagaimana kesuksesan pentas saya siang tadi.
Menyulap kelinci dalam topi. Sim salabim. Atau mungkin yang ini, mengubah kertas menjadi bunga.
Maap, saudara kalau saya gagal kali ini. Maklum saya hanya terbiasa menangani kasus-kasus yang lumayan besar. Kalau semisal menyulap kelinci atau menyulap kertas, maap, itu jauh di bawah level saya.
Saya biasa mengubah biodata kartu identitas, dari KTP sampai paspor. Ditangan saya seorang koruptor bisa bebas dari hukum dan tetap menjadi pemimpin. Lewat mantera saya “sim salabim” pecundang pun bisa menjadi wakil rakyat. Bila ada yang ingin menjadi pegawai silahkan hubungi saya. Apapun ijazah anda, berpengalamankah atau tidak. Tak perlu ragu. Sebab saya pun mampu membuat ijazah dan pengalaman tak lagi laku. Atau ada yang ingin mendapatkan cairan dana tanpa jaminan dengan proses yang ditanggung sangat mudah? Atau ada yang ingin jadi walikota, bupati, menteri, presiden? Silahkan hubungi saya. Jangan khawatir sebab saya menyediakan juga paket calon. Atau ada yang menginginkan putra-putrinya masuk perguruan tinggi ternama sementara nilainya jelek dan gagal saat masuk ujian seleksi? Atau ada yang ingin menjadi artis top? Menjadi selebriti? Menjadi direktur rumah sakit? Menjadi Saddam? George Bush? Osamah?
Sayalah pesulap low profile yang bisa mewujudkan semua keinginan semua manusia.
Dengan kekuatan saya, saya mampu membuat pemilik ruangan ini tidak kelihatan. Sim salabim!
Dan sekarang hanya ada saya sendiri di ruangan ini.
Meski sejujurnya saya merasa tertekan di sini. Dan jelas saya merasa sangat tidak nyaman. Kaki dan tangan saya seperti terpaku pada benda keparat ini. Membuat saya sulit untuk bergerak. Bangsat.
(Gugup)
Sttt …. maap ngga sengaja. Sumpah. Saya ngga sengaja ngomong bangsat. Ehhh tuh kan ngomong lagi. Ngga boleh ngomong kayak gitu. Benar.
Itu tadi kesalahan yang tidak saya sengaja. Saya mengerti betul kode etik disini. Iya. Di larang keras ngomong jorok dan menghujat apalagi yang menjurus ke arah pornoaksi dan pornografi!
Ini salah satu yang membuat saya tertekan.
Hampir setiap sudut di ruangan ini dilengkapi dengan peralatan canggih yang mampu merekam suara dan gambar sedetail mungkin. Ibaratnya, meski hanya bisik-bisik dengan volume yang paling minim pun, akan terdengar dengan jelas dan terekam disana.
Bahkan, bila saya membaca tulisan sekecil semutpun bisa di zoom hingga jelas sejelas jelasnya. Dan jelas saya merasa betul betul sangat tidak nyaman berada di sini.
Saya merasa ada seribu pasang mata yang selalu memperhatikan setiap gerak gerik saya. Wajar bila tumbuh rasa was-was di sini. Di batin ini. Jangan-jangan dag dig dug jantung saya terdengar sampai kesana. Jangan-jangan napas saya setiap harinyapun sudah dijatah. Jangan-jangan saya akan dituduh korup bila bernapas kelebihan satu kali sedotan. Jangan-jangan mimpi saya kemarin malam pun sudah dianalisa dan digolongkan sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas keamanan. Jangan-jangan hanya berangan-angan pun sebenarnya sudah dideteksi dan direkam. Jangan-jangan berangan-anganpun dituduh melakukan tindakan subversive. Jangan-jangan…Aduhhh . bagaimana ini? Saya harus bagaimana? Kalau tiba-tiba semua orang memandang saya dengan curiga, kemudian saya dikucilkan, kemudian orang bisik-bisik ketika saya lewat, kemudian muncul satu kata yang sangat menyeramkan : subversive!
Terus apa yang harus saya lakukan bila saya dituduh subversive?
(Memindahkan dan membuka salah satu peti)
Saya harus membuat pledoi. Ya. Saya akan menyusun sebuah pembelaan terhadap angan-angan saya.
Bayangkan. Orang sekurus ini membawa buku setebal dua ribu lima ratus dua puluh lima halaman. Meski keberatan, namun kaki saya cukup gagah untuk melangkah memasuki ruangan pengadilan. Siang itu ruang pengadilan tampak lebih ramai dari biasanya. Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum tampak memasang muka sangar di depan saya. Sementara saya sendiri. Tanpa Pengacara. Apa daya saya tak mampu untuk membayar seorang pengacara untuk membela saya. Lagian akhir-akhir ini para pengacara lebih banyak memilih menjadi pembela kasus-kasus yang bisa meroketkan nama mereka. Atau kalau tidak ya mendampingi orang-orang kaya yang terbelit utang atau menjadi pahlawan dalam kasus gugat menggugat. Meski tanpa pengacara, tak menjadi soal.
Saya tetap penuh percaya diri untuk duduk di kursi terdakwa kasus subversive. Para pengunjung pengadilan yang dari pagi menunggu semakin tidak sabar untuk mengikuti jalannya pengadilan. Dugaan saya tidak salah, sejak semula saya yakin semua pertanyaan Jaksa bersumber dari kenapa saya mempunyai sebuah angan-angan. Dan saya sudah hapal betul ringkasan pledoi yang tebal itu. Saya akan jawab dengan gagah : Yang Mulia, angan-angan adalah harta tertinggi semua manusia yang paling mungkin dimiliki. Meski saya miskin toh saya merasa kaya akan angan-angan. Biarpun ribuan orang antri untuk membeli angan-angan saya, takkan mungkin saya jual.
Saya membayangkan semua orang akan mengangkat tangannya dan bertepuk tangan untuk menghormati keberanian saya.
Kalau toh akhirnya saya tetap diskak mat dengan pernyataan bahwa berangan-angan adalah sebuah tindakan subversive, biarlah. Saya akan tetap menulis dan menulis semua pembelaan terhadap angan-angan saya. Tentu dalam versi saya. Dan tulisan itu akan saya cetak perbanyak sehingga semua orang akan tahu bahwa saya adalah korban tuduhan tindakan subversive yang sewenang-wenang. Saya yakin pada akhirnya semua orang akan tahu siapa yang keliru. Dan saat semua orang tahu, saya baru bisa menghela napas dan tidur dengan nyenyak.
Dan, inilah ketakutan saya selanjutnya : tidur. Ya. Saya takut tidur sebab setiap kali tidur saya pasti bermimpi. Dan saya cemas. Jangan-jangan mimpi-mimpi saya sudah terekam dan sedang di proses datanya. Dan bila itu terjadi, mungkin suatu saat saya akan dipanggil untuk mempertanggung jawabkan mimpi saya. Dan disanalah saya diserang berbagai pertanyaan yang menyudutkan semua mimpi saya. Meski begitu saya sudah bertekad bahwa saya tidak boleh kalah dalam bermimpi. Biar. Saya akan mati-matian memperjuangkan mimpi saya..
Namun toh akhirnya saya akan tetap dilarang bermimpi.
Kemungkinan-kemungkinan untuk bermimpi semakin dipersempit. Peraturan-peraturan bermimpi dibuat sejelas mungkin. Semua mimpi harus melalui prosedur yang jelas. Mimpi harus melewati Badan Sensor Mimpi, bermimpi lewat dari 1X24 jam wajib lapor, mimpi para pendatang mesti berbeda dengan mimpi para pribumi. Meski kita sendiri tak tahu persis siapa pribumi dan siapa pendatang. Dan ini yang tidak saya mengerti, mimpi juga dianggap bisa merongrong kewibawaan. Maka mungkin akan disyahkan undang-undang baru bagi para pencinta mimpi dengan hukuman yang membikin orang takut bermimpi. Sudah pasti saya lah yang pertama akan terjerat hukuman paling berat. Dan saya tak berhak memberikan pembelaan sedikitpun. Ya saya ditahan tanpa proses pengadilan. Hingga pada suatu malam yang gelap gulita saya digiring ke sebuah tanah lapang. Malam itu hanya ada saya. Saya yang akan segera berhadapan dengan malaikat maut. Lutut saya terasa gemetaran. Sementara dua algojo berbadan kekar telah siap dengan pedang di tangan. Tak mau peduli. Inilah detik-detik terakhir saya menghirup napas. Saya ingin menghirup napas dengan sebebas-bebasnya dan sebanyak-banyaknya. Saya buang semua pertanyaan-pertanyaan saya tentang keadilan.
Adilkah seseorang dihukum tanpa proses pengadilan hanya karena dia bermimpi?
Lampu gelap total.
Selesai di Waturenggong 108@2003
Giri Ratomo
Label: kumpulan naskah teater

Teater,,,,Bagiku????
Teater menurutku adalah sebuah seni yang memberikan wahana bagi para peminatnya untuk berkreasi dalam gerakan,musik,perkataan,dan segala unsur seni yang ada.Semua terangkum menjadi satu dalam teater.
Aku mengenal teater jauh sebelum aku memahami betul tentang teater.Aku tau teater,karena ayahku sendiri adalah orang yang berkecimpung di dalamnya.Dulu ketika aku masih balita,aku banyak mengenal seniman-seniman(orang yang berkecimpung dalam dunia seni,termasuk teater)lokal di daerahku,karena ayahku sering mengajakku ke tempat mereka.
Namun dasar aku,aku belum tertarik akan dunia teater,meski waktu itu aku tau bagaimana teater.Bahkan,karena seringnya aku menemui hal-hal yang berhubungan dengan teater,aku malah tidak menyukainya.
Semenjak di Sekolah Dasar aku memang mengikui Ekstra Teater,namun,aku tidak pernah niat untuk melakoninya,hingga berlanjut ketika aku duiduk di bangku SMP.Entahlah apa alasanku.
Semua berubah ketika aku masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Seseuatu yang berawal dari coba-coba,kini menjadi sesuatu yang amat aku nikmati keberadaannya.ketika awal aku di SMA,aku tidak berpikir untuk berkecimpung didalam dunia teater,bahkan saat itu,ketika aku masuk ekstra teater,aku punya tujuan yang tidak jelas,atau kata lainnya “coba-coba saja”.
Tapi siapa yang tau kalau akhirnya,aku memilih teater menjadi bagian dari hidupku.Aku tau banyak orang yang berasumsi bahwa oarang teater itu urakan,gak tau aturan,bahkan banyak yang melanggar etika asusila,intinya bebas-sebebas bebasnya.Aku tidak menyalahkan iru,karena memang kenyataannya demikian,ya meski tidak semua,tapi aku tau ada sebagian orang,yang mengaku dirinya sebagai orang teater bertindak seperti itu. Bagiku,itu bukanlah orang teater. Aku punya konsep tersendiri tentang teater.Bahwa teater itu mendidik,mendidik manusia untuk pandai-pandai menempatkan dirinya pada suatu hal atau masalah.Karena kebanyakan sebuah pertunjukan teater itu pasti ada sisi edukasinya,yang tentunya amat baik bagi kita,tidak hanya orang yang berkecimpung dalam teater,namun juga orang awam.
Label: teaterQ
PENULISAN NASKAH DRAMA
Menurut Aristoteles ada tiga pokok drama yang tidak dapat dinafikan (trilogi-Aristoteles) yaitu ruang, waktu dan lakon/cerita. Dalam menulis naskah ketiga unsur tersebut menjadi sangat penting dan harus ada. Dalam penulisan ada tiga unsur subyek-obyek yaitu penulis, pembaca (Apresiator) dan topik (tema). Disamping itu ada baiknya kita ketahui bagian-bagian dari naskah. Adapun bagian-bagiannya adalah :
1.Eksposisi/pengenalan karakter
2.Konflik/permasalahan
3.Komplikasi/pengalihan
4.Klimaks dan anti klimaks
5.Resolusi
6.Konklusi/ending
Dalam menulis naskah drama/lakon ada beberapa hal sebagai dasar dalam penulisan, yaitu :
1.Perwatakan/karakter peran
Perwatakan ini memiliki sifat-sifat karakteristik dimensional yaitu :
a.Fisiologis (ciri-ciri badani)
Tingkat kedewasaan/umur
Gender/seks
Keadaan tubuh
Ciri-ciri muka dll.
b.Sosiologis (latar belakang kemasyarakatannya)
Status sosial
Pekerjaan, jabatan (peran dalam masyarakat)
Pendidikan
Kehidupan pribadi
Agama, ideologi, kepercayaan, pandangan hidup.
Aktivitas sosial, hobby
Bangsa, keturunan, suku/kedaerahannya
c.Psikologis/kejiwaan
Mentalitasz
Temperamen, keinginan, perasaan pribadi, sikap dan kelakuan
Tingkat kecerdasan
2.Situasi/suasana/setting permasalahan
3.Tema/ide pokok
4.Plot/alur cerita
a.Maju
b.Mundur
c.Maju mundur
5.Setting peristiwa/tempat kejadian
6.Premiss/pesan moral/parabel nilai penyadaran
7.Penentuan ending.
a.Katastrop (mengambang/multi interpretable)
b.Katarsis (mutlak/makna tunggal)
Macam-macam peran dalam teater/drama
Menurut karaterisasinya :
1.Peran mayor (protagonis)
2.Peran minor (antagonis)
3.Peran penengah (tritagonis)
Menurut fungsinya :
1.Peran utama
2.Peran sentral
3.Peran pembantu
4.Peran figuran.
Untuk peran pembantu dan peran figuran dalam pementasan teater ditiadakan atau dijadikan/dimasukkan dalam peran utama semua, untuk menghindari kesan utama dan tidak utama. Karena dalam pementasan teater peran tidak ada yang tidak utama, semua mempunyai peran yang vital. Untuk menghasilkan naskah drama yang baik dan berkualitas, penulis sering sharing dengan orang lain terutama yang berkompeten di bidang sastra untuk memberikan masukan-masukan dari berbagai sisi dan aspek kehidupan. Serta sering membaca naskah-naskah yang sudah ada sebagai perbandingan.
SELAMAT MENCOBA
Label: teaterQ

Menulis,,,,Susah Atau Mudah?????
Bagi sebagian orang,menulis adalah hal yang tidak mudah.Mengembangkan kata menjadi kalimat,kemudian mengembangkan kalimat menjadi sebuah paragraf hingga membentuk suatu rangkaian memang tidak semudah menulis diatas pasir.
Namun,pernahkah kita mendengar sebuah pepatah “segala sesuatunya itu butuh sebuah proses”,hal ini berlaku juga dalam hal menulis.Apapun bentuknya,entah itu tulisan esai,cerpen,novel,sebuah karya tulis misalnya,semua itu butuh sebuah proses,agar otak kita mampu terbiasa untuk mengembangkan tiap-tiap kata yang kita tulis,jadi tidak salah juga kalau ada yang mengatakan menulis itu mudah.Contoh yang paling mudah untuk mengembangkan kemampuan kita dalam menulis adalah dengan menulis buku diary,tulis saja apa yang kamu rasakan,segala sesuatu yang terjadi di hari-hari kamu.
Susahnya,kalau kita sudah membiasakan diri untuk menulis,namun tetap saja tulisan kita belum bisa dianggap berbobot (misalnya).Nah kalau sudah masuk tahap ini,kita perlu adanya sebuah referensi.Yupz,,,buku adalah salah satu alternatif yang bisa kita jadikan referensi,makanya kenapa ada kata pepatah yang mengatakan “Buku Adalah Jendela Dunua”,karena dengan buku kita bisa menambah wawasan tentang apa yang ditulis dalam buku itu,dan yang jelas bertambah juga wawasan kita akan kosa kata yang tertulis dalam buku tersebut.
Selamat mencoba!!!!!!
Label: Tips
Kiat menulis cerpen
KIAt-KIat menulis cerpen
Struktur
Para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika mulai menyusun cerpen mereka:
1.Taruh seseorang di atas pohon.
2.Lempari dia dengan batu.
3.Buat dia turun.
Kelihatannya aneh, tapi coba Anda pikirkan baik-baik, karena saran ini bisa diterapkan oleh penulis mana saja. Nah, ikuti langkah- langkah perencanaan seperti yang disarankan di bawah kalau Anda ingin menulis cerpen-cerpen yang hebat.
Perencanaan Cerpen
Taruh seseorang di atas pohon: munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita.
Lempari dia dengan batu: Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Contoh: Kesalahpahaman, kesalahan identitas, kesempatan yang hilang, dan sebagainya.
Buat dia turun: Tunjukkan bagaimana tokoh Anda akhirnya mengatasi masalah itu. Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Contoh: Kekuatan cinta, kebaikan mengalahkan kejahatan, kejujuran adalah kebijakan terbaik, persatuan membawa kekuatan, dsb.
Ketika Anda selesai menulis, selalu (dan selalu) periksa kembali pekerjaan Anda dan perhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa. Jangan menyia-nyiakan kerja keras Anda dengan menampilkan kesan tidak profesional pada pembaca Anda.
Praktekkan perencanaan sederhana ini pada tulisan Anda selanjutnya.
Tema
Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.
Ketika menulis cerpen, bisa jadi kita akan terlalu menaruh perhatian pada satu bagian saja seperti menciptakan penokohan, penggambaran hal-hal yang ada, dialog atau apapun juga, untuk itu, kita harus ingat bahwa kata-kata yang berlebihan dapat mengaburkan inti cerita itu sendiri.
Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas. Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.
Tempo Waktu
Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.
Setting
Karena Anda hanya memiliki jumlah kata-kata yang terbatas untuk menyampaikan pesan Anda, maka Anda harus dapat memilih setting cerita dengan hati-hati. Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak. Sebagai contoh, beberapa setting yang paling menakutkan bagi sebuah cerita seram bukanlah kuburan atau rumah tua, tapi tempat-tempat biasa yang sering dijumpa pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka. Buatlah agar pembaca juga seolah-olah merasakan suasana cerita lewat setting yang telah dipilih tadi.
Penokohan
Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.
Dialog
Jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita. Jika ternyata dialog tersebut tidak mampu mendukung tema, ambil langkah tegas dengan menghapusnya.
Alur
Buat paragraf pembuka yang menarik yang cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona. Jangan pula membuat "twist ending" (penutup yang tak terduga) yang dapat terbaca terlalu dini, usahakan supaya pembaca tetap menebak-nebak sampai saat-saat terakhir. Jika Anda membuat cerita yang bergerak cepat, misalnya cerita tentang kriminalitas, jagalah supaya paragraf dan kalimat-kalimat Anda tetap singkat. Ini adalah trik untuk mengatur kecepatan dan memperkental nuansa yang ingin Anda sajikan pada pembaca.
Baca ulang
Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali.
Diadaptasi dari internet
Label: Tips
08/02/10
Impian kecilku
Impian Kecilku
Oleh :tw_maniez
Teng...teng...teng...
Suara yang amat aku benci itu menggema di seluruh penjuru kelas. Semua barisan dirapatkan, menyiapkan hati dan seluruh raga, layaknya hendak maju di medan perang. Memang sekarang kita sedang menghadapi perang, perang melawan kebodohan, sesuatu yang selama ini menyelimuti negeri kita, dan jangan sampai itu menyerang kita jauh lebih dalam.
Apa mau dikata, kalau kenyataannya aku kalah cepat melangkahkan kaki melewati gerbang masa depanku ini dengan suara lonceng itu. Meskipun seribu kali aku katakan aku siap, aku semangat, aku akan lawan kebodohan itu, Sang Kepala Sekolah akan tetap setia menyambutku tepat pukul tujuh pagi dengan wajah garang yang sudah menjadi ciri khasnya.
“Berapa kali kamu terlambat?” Matanya melotot tak ubahnya harimau yang ingin menelan bulat-bulat mangsanya.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan yang semestinya tak perlu aku jawab itu, badanku sudah gemetar duluan, dan akhirnya senyum keterpaksaanku lah yang keluar.
“ Kamu itu, bisanya cuma pringas-pringis. Kalau kamu begini terus, mau jadi apa nanti? Bakul Cenil? Atau ngarit di sawah bapakmu? Kamu itu sudah kelas tiga, mbok ya kasih contoh yang baik sama adik-adiknya.”
Begitulah Kepala Sekolahku tercinta, aku hampir hafal tiap kata per kata yang beliau lontarkan ketika menceramahiku. Aku maklumi, Kepala sekolahku memang terkenal disiplin bin killer. Ini sih masih mending, hanya diceramahi, yang cukup parah, kemarin waktu temanku kepergok pake rok super mini, lansung saat itu juga Sang Kepala sekolah yang turun tangan menyuruh rok itu dijahit dengan taplak meja hingga menutupi tumit. Kebayang gak sih jadinya kayak gimana?
Seperti yang sudah-sudah, ceramahnya akan berakhir tepat pukul setengah delapan, tidak kurang tidak lebih, dan sebelum menyuruh masuk ke ruang BP untuk mengisi buku pribadi (buku pelanggaran siswa), Ibu Kepala Sekolah memberi kami -para siswa yang datang terlambat- hadiah yang amat manis, yang akan membuat badan siswa didiknya menjadi sehat, kuat, dan lemas kalau keseringan. Mau tau apa??? Lari muterin lapangan 10 kali. Wuih capek!!!
“ Telat lagi?” tanya Mita teman sebangkuku.
“He... he... he... Gak enak kalau gak sarapan pake omelam mama killer ( sebutan untuk Ibu Kepala Sekolah kami).” Jawabku santai seraya menaruh tasku di bangku.
“ Dasar kamu. Eh bentar lagi mau kuliah kemana?”
“Hm... URM aja deh.”
“URM?Apa itu?Aku kok baru dengar?” tanya Mita kebingungan.
“Universitas Rumah Mertua, he... he... he...” candaku
“Ye... terus nantinya kamu bakal masuk lewat jalur PMDK KUA gitu?”
“Ya... bisa dibilang begitu.”
Gak kebayang aku sudah kelas tiga SMA, sudah saatnya aku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun... aku masih ragu, apa aku mampu? Aku gak bisa memungkiri, keluargaku bukanlah keluarga yang tergolong mapan, bahkan bisa dibilang pas-pasan. Untuk biaya sekolahku saat ini saja sudah mentok, kalau gak ditunjang dengan beasiswa, mungkin aku akan pupus di tengah jalan seperti saudaraku yang lainnya. Tapi, Allah masih sayang dengan aku. Aku masih punya kesempatan meletakkan namaku di ijasah SMA suatu hari kelak .
Minggu-minggu ini banyak banget sosialisasi dari kakak-kakak alumni yang kini menjadi mahasiswa di berbagai universitas bonafit yang tersebar di seluruh Indonesia. Uh... mati aku, sampai kapan aku harus menahan godaan ini? Aku sudah jelas gak akan bisa kuliah, meskipun aku sangat meminpikan dibelakang namaku minimal ada sebuah gelar yang bisa aku banggakan. Namun jalur apapun, entah itu PMDK, SNMPTN, ataupun jalur lainnya yang disediakan menurut kebijakan masing-masing Universitas, aku takkan sanggup membayar biayanya, terlebih biaya masuknya yang bagiku terlalu tinggi melebihi gunung yang paling tinggi di dunia.
Gak apa-apa lah, yang penting aku harus bisa lulus UAN dengan nilai yang sempurna. Aku harus bisa menjadi bos suatu hari kelak, meski dibelakang namaku tak ada gelar apapun. Ilmu tak harus kudapatkan di pendidikan formal, ucapku dalam hati menguatkan diri.
“Jadi nih masuk URM?” ledek Rara, teman sekelasku yang terkenal cerewet dan kaya
“Mengapa tidak? Kalau dengan itu masa depan bisa terjamin. “ jawabku sedikit kesal.
“Kalau kamu? Jadi kuliah di Jakarta?” tanyaku balik.
“Ya iyalah, aku bakal cari tempat kuliah yang paling bonafit dong, dan kamu tahu sendiri kan dimana tempatnya.” Jawabnya menyombongkan diri.
“Kenapa gak sekalian di luar negeri aja? Kan lebih bonafit.”
“Jawabannya cuma satu. Mana bisa sekolah ke luar negeri kalau bahasa Inggris aja cuma bisa I love you ama no smoking.” sahut Nuri seraya menuju tempat duduknya yang tepat di depan bangkuku.
“Jangan ngajak ribut ya.” ucap Rara emosi.
Pertengkaran dua anak yang sama-sama cerewet ini akhirnya terhentikan ketika untuk kesekian kalinya ada sosialisasi tentang perkuliahan, dan yang kali ini dari kakak alumni yang berkuliah di Jakarta. Tentu saja Rara yang teramat minat kuliah disana, lebih memilih kembali ke tempat duduknya untuk mendengarkan sosialisasi daripada meladeni omongan Nuri. Untung deh, Perang Dunia keempat gak jadi meletus.
Awalnya aku males banget ndengerin, tahu sendiri kan alasannya. Namun disela-sela penjelasan kakak alumni yang akhirnya kuketahui bernama Kak Alisa dan Kak Ratih itu, aku tertarik akan penjelasannya bahwa setiap calon mahasiswa bisa berkuliah disana tanpa dipungut biaya sepersenpun, bahkan akan ditanggung biaya hidupnya selama berkuliah disana. Intinya kita cuma mikir belajar aja. Hello... ini beneran??? Jadi aku masih punya kesempatan kuliah dong.
Beberapa menit setelah Kak Alisa dan Kak Ratih selesai menjelaskan semua informasi yang kira-kira diperlukan, aku mulai mengajukan pertanyaan ini itu yang sekiranya penting, dan lucunya Rara yang awalnya semangat banget nungguin sosialisasi itu, tiba-tiba hilang sindrom cerewetnya. Ah... perduli amat!!!
Seneng banget, kesempatan untuk bisa kuliah kini ada di depan mata. Meski untuk meraihnya aku harus bersaing dengan seluruh pelajar tingkat SMA di segala penjuru daerah dari Sabang sampai Merauke yang tak terhitung seberapa banyak jumlahnya, aku akan optimis kalau aku bisa, aku pasti bisa, selagi kesempatan itu masih aku genggam.
Terhitung sejak sosialisasi itu, aku lebih semangat lagi untuk berusaha meraihnya, disamping UAN yang akan aku hadapi bulan Maret nanti.
Ada dua perang yang akan kuhadapi nanti, dan kedua perang itu yang akan memberiku jawaban kemana nanti masa depanku akan kubawa. Dan selama ruh ini melekat dalam ragaku, akan kuperangi segala kebodohan, terutama kebodohan yang menyelinap di diriku, tak akan kubiarkin impian kecilku pupus begitu saja. Aku pasti bisa!!!
TAMAT
Daftar Nama Tokoh
1. Aku ( pemeran Utama)
2. Kepala Sekolah
3. Mita
4. Rara
5. Nuri
6. Kak Alisa
7. Kak Ratih
Label: cerpen Qta
cerpenQ
Double S
(Syukuri Syukur)
oleh : Tri Wulan Choirunni’mah
Sepuluh…,dua puluh…tiga puluh…lima…lima?LIMA RIBU?
Begitulah keseharian Riri, lajang manis berusia 16 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan di salah satu SMA di Kota Kediri. Tiap hari, tiap waktu, entah itu pagi, siang, sore, atau ketika matahari lelah bertahtapun, ia tak bosan-bosannya melakoni hobi anehnya itu. Bisa dibilang Riri tergolong anak yang agak irit soal duit, istilah kasarnya pelit.
Masalah gengsi Riri tampaknya gak mau kalah. Dia paling anti kalau dibilang gak punya duit lantaran teman-temannya mamerin barang-barang mahal yang baru dibeli. Karena kemakan omongan temanya,langsung aja tanpa banyak cincong dan pikir panjang , ia beli barang-barang serupa yang lebih mahal malah, walaupun ia lagi krisis duit.
Derita anak kost,begitulah ia menyebut nasibnya saat tanggal tua menjelang. Pokoknya kalau sudah tanggal dua puluh keatas,musuh besarnya bakal mulai nongol di depan mukanya dan bisa ditebak raut mukanya akan manyun-manyun kayak orang yang lagi dapet, sampai Sang Malaikat -bokapnya- datang membawa bingkisan berkilau yang bisa bikin mata berubah jadi ijo, baru deh ia bisa senyum-senyum sendiri mirip orang yang hampir sinting.
“Waduh…udah defisit lagi…gimana ni?”keluhnya saat menghitung sisa uang yang dimiliki sepulang sekolah.
“Alamat gawat! Tapi kalau nelpon bokap jelas gak mungkin, pasti kena semprot, bisa-bisa tekanannya lebih besar dari semburan lumpur Lapindo.”gumamnya seraya menghitung anggaran di buku keuangan yang gak pernah absen dibawa kemanapun ia pergi.
Selang beberapa menit dari keasikannya menghitung uang, ketukan pintu sontan mengagetkannya.
“Astagfirullah…masyaallah…innalilahi...,”latahnya.
“Ri,buka gih!”teriak Mita teman sekamarnya dari balik pintu.
Mendengar suara itu, dengan sigap dan cepat layaknya orang yang mau nyelamatin harta bendanya dari amukan bencana alam, Riri langsung saja membereskan seluruh barang-barang yang berserakan di kasur, mulai dari kertas, kertas, kertas, dan yang paling important is,duit. Ketika semuanya udah beres baru deh pintu kamar di buka.
“Napa sih pake dikunci? Ngitung duit lagi ya?”ledek Mita.
“Ng…nggak, sotoy ah,”jawab Riri agak gugup.
“Tapi tumben pulang lebih awal,biasanya kan sore,hayo…hayo…,”tanya Mita agak menggoda.
“Au ah,gelap…,”jawab Riri singkat.
**************
Seperti pelajar lainnya, agenda Riri pagi ini adalah bangun pagi, mandi dan sekolah. Tapi malang nian nasibnya, gara-gara memikirkan kondisi keuangannya semalam, Riri mendadak kena penyakit insomnia. Alhasil tidur pagi, bangun telat deh, tapi syukurnya sampai sekolah gak disetrap satpam yang biasanya nongol tepat jam setengah tujuh pagi nunggu anak-anak yang datang terlambat dengan wajah galak bin serem kayak anjing herder.
Perut emang gak pernah bisa bohong, kalau laper ya laper, walaupun ditahan bagaimanapun tetap riang suaranya gak bisa ditahan. Tapi khusus perut Riri kayaknya kudu diajak kompromi, meski gak dipungkiri sedari pagi udah bernyanyi gak karuan.
“Ri, ke kantin yuk!” ajak Jingga teman sebanggkunya.
“Gak ah,lagi gak laper,” jawabnya agak bohong. Gengsilah kalau bilang gak punya duit.
“Ayolah,nganterin aja de,.” pintanya lagi memelas.
“Hm…gimana ya…?Lagi males jalan nih.” tolak riri balik.
Gak butuh waktu lama, Dani cowok yang selama ini ditaksir Riri mengajaknya ke Perpustakaan.
“Ri, gak pengen ke perpus? Kita lagi ada tugas PPKN nih.”
“Hmm…, ”lagaknya berpikir.
“Boleh deh,”jawabnya singkat.
Jingga yang mendengarkan percakapan singkat itu hanya manyun-manyun, lantas berlalu sambil bergumam.
“Giliran Dani aja mau.”
Jelasnya Riri seneng banget, gimana gak,cowok yang sejak kelas satu ditaksir, sekarang tepat berada disampingnya,berdua lagi. Walaupun cuma belajar kelompok, yang penting berdua.
Tapi namanya Riri, mana pernah sih ketiban duren -dapat untung- utuh, pasti setengah-setengah. Maksudnya, baru beberapa menit Riri dan Dani memulai belajar kelompoknya, muncul Annisa mengganggu kesenangan Riri.
“Dan, ternyata kamu disini?”tanya Annisa mendekati Dani .
“Kenapa memangnya?”
“Ini nih, tugas dari Pak Ketos,”jawab Annisa sambil memberikan secarik kertas yang berisi tulisan-tulisan yang mungkin kalau orang lain yang baca, gak bakal ngerti.
Beberapa menit berlangsung percakapan antara Dani dan Annisa seputar masalah Kegiatan OSIS. Alhasil Riri dicuekin deh.
Dari pada menjamur sendirian disitu, akhirnya Riri memutuskan untuk meninggalkan Dani dan Annisa berdua. Kesel bin sebel sih.
“Sebel banget, lagi enak berduaan lagi,”gumamnya saat keluar dari ruang perpustakaan yang baru-baru ini dilengkapi dengan fasilitas multimedia guna mempermudah para siswa mengakses situs-situs di internet.
Setengah perjalanan, pandangan Riri tertarik akan sebuah selebaran yang tertempel di mading sekolah yang terletak beberapa meter dari ruang perpustakaan. Memang cukup menarik sih, pasalnya perpaduan gambar, warna, tulisan, serta efek yang ditimbulkan membentuk satu kesatuan yang balance dan unik, membuat setiap mata beralih meliriknya.
Sejenak Riri memandangi selebaran itu, kemudian matanya mulai beralih ke kalimat yang tertulis, “Bakti Sosial PEDULI BUDAYA DENGAN BERBAGI” yang tercetak tebal dengan color biru muda ditambah blur warna hijau kekuning-kuningan.
Mungkin bagi orang-orang seperti Riri kalimat itu masih sulit untuk dicerna. Maklumlah otak Pentium II, mana bisa diajak kerja cepat.
“Kakak tertarik ikut?”tanya seorang gadis yang baru beberapa detik berdiri tepat di samping Riri.
“Ha?”jawab Riri singkat agak kaget.
“Kayaknya menarik,”ujarnya melanjutkan,sambil memandangi terus selebaran itu.
“Ikut aja kak,pasti seru,”ajaknya penuh semangat.
“Memangnya kenapa?”tanya Riri agak penasaran.
“Soalnya…,”Diam sejenak berpikir.
“Kita kan remaja, yang katanya penerus bangsa, kakak taukan di TV budaya kita banyak yang klaim oleh negara lain. Nah, sebagai generasi muda kita patut untuk menyelamatkan, dengan cara berbagi pada yang sekiranya masih belum perduli.”jelas gadis itu panjang lebar.
“Ow…tapi gratis gak?”tanya Riri balik .
“Ah kakak,ini kan kegiatan bakti sosial,menurut kakak? Gratis gak?”tanyanya balik sambil tersenyum kecil.
“Kalau kakak berminat, besok kita kumpul di kelas X-3 ya. Kita bakal bagi tugas waktu itu,”ucap gadis itu dan kemudian berlalu.
Ditengah perjalanan kembali ke kelas, Riri terus saja memikirkan tawaran gadis tadi,yang kayaknya sih dia anak kelas satu.
Setengah tertarik dan setengah gak, tapi kayaknya dominan tertarik.Soalnya Meski punya seabrek hobi dan sifat yang gak patut dicontoh, Riri juga punya satu hobi yang bisa dikatakan membanggakan, dia paling suka dengan kata seni, dari kecil dia memang udah ngimpi-ngimpiin jadi seorang penari profesional, tapi bukan sejenis dance, atau tari perut yang notaben buka aurat yah.Bisa dipancung ama ortunya tuh kalau hal itu kejadian.
Meski pecinta seni, yang katanya kebanyakan orang, bebas dan gak tahu aturan, tapi Riri punya batasan-batasan tersendiri. Bebas boleh, asalkan gak keluar dari kaidah yang diajarkan di Al Quran dan Al Hadist. Apa lagi kalau berkesenian dengan tujuan berdakwah. Bukannya malah dapat pahala tuh. Amin,moga aja deh.
Keesokan harinya, setelah memikirkan masak-masak serta mempertimbangkan dengan matang-matang. Riripun memutuskan untuk datang ke kelas yang disebutkan kemarin.
Saat baru pertama masuk pintu, Riri langsung dikagetkan akan keberadaan Dani dan Annisa disitu. Usul punya usul ternyata mereka juga ikut kegiatan itu sebagai perwakilan dari OSIS, tapi yang diheranin Riri kenapa pas mereka berdua yang jadi wakil dari OSIS, padahal anak OSIS kan ada 55 orang.
Kegiatan breefing berlangsung sekitar satu jam setengah, membicarakan rencana kegiatan bakti sosial. Tampak saat itu Ririlah yang paling semangat.Jelaslah, tadi kan udah disinggung kalau dia paling seneng bicara masalah kesenian.
“Jadi, kegiatan kita bagi jadi dua hari, hari pertama orasi ke masyarakat luas, dan mengadakan pentas seni untuk penggalangan dana, dan hari kedua kita berangkat ke daerah yang sekiranya patut untuk diberi sumbangan. Gimana? Ada yang bertanya atau punya usul lain?” tanya Satria siswa kelas XII A 3, yang dalam kegiatan ini bertindak selaku penanggung jawab kegiatan.
“Tanya!”ucap Riri yang duduk dibangku paling pojok dua dari depan sambil mengacungkan tangannya .
“Untuk pentas seni,kita bakal nampilin apa aja? Terus yang tampil siapa aja? Kan kita tau sendiri, anak sekarang mana ada yang mau kalau dimintain pentas, apalagi ada hubungannya ama kesenian daerah.”
“Nah itulah maksud kegiatan ini. Kita mencoba untuk mengajak teman-teman sejawat kita untuk perduli akan kesenian dan budaya daerah,minimal daerah kita sendirilah. Kita coba saja, dari sekian banyak pelajar di Kediri, berapa persen yang tau kesenian daerah Kediri, atau yang paling gampang tentang kisah Dewi Kili Suci, dikit banget kan yang tahu. Selain itu kita tau sendiri anak sekarang gak bisa tanggap kalau gak dipaksa, jadi kita paksa aja mereka untuk cari tau dan mempraktekkannya, dengan cara mewajibkan dari tiap kelas untuk mengirimkan delegasi untuk mementaskan kesenian daerah, apapun itu.”jelas Satria menggebu-gebu.
Diskusipun semakin menjurus ke inti kegiatan. Memang sih dibuat ekspres, masalahnya deadline kegiatan ini memang ekspres juga, satu minggu lagi, niatnya memang bertepatan dengan Bulan Bahasa yang tiap tahunnya bertepatan antara bulan Oktober hingga Desember. Makanya untuk segala keperluan untuk kegiatan ini harus diselesaikan hari itu juga.
So, dari diskusi tadi, Riri kebagian jatah sebagai humas, yang langsung berhubungan dengan masyarakat yang merupakan sasaran kegiatan tersebut.
***************
Akhirnya hari dimana bakti sosial itu dilaksanakan datang juga. Riri yang sudah siap dengan tugasnya, menjadi panitia yang paling bersemangat. Kegiatan yang pertama yaitu orasi di depan masyarakat umum, kemudian siangnya dilanjutkan dengan pentas seni yang diadakan di halaman depan sekolah.
Semua siswa tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Sorak-sorai dari berbagai kelas yang mendukung perwakilannya tampil pun menambah kemeriahan acara ini.
Tak luput, Riri menyumbangkan sebuah tarian khas Kediri yang belakangan ini jarang didengar dan bisa dibilang hampir punah. Tari Kethek Ogleng namanya, sebuah tarian yang berkisahkan tentang perjalanan asmara antara Dewi Kili Suci dan Panji Asmorobangun yang terangkum dalam lakon Panji. Tentu saja dalam tarian itu Riri yang melakoni peran sebagai Dewi Kili Suci tidak sendiri, ia berkolaborasi dengan Anji -teman sekelasnya- yang berperan sebagai Panji Asmorobangun.
Acara bakti social pun berakhir hingga petang dan ditutup dengan penampilan kolosal berjudul Bumi dan Budayaku dari ekskul Teater.
Kegiatan pada hari itu memang sudah berakhir, tapi bukan berarti menjadi akhir dari rangkaian kegiatan bakti sosial tersebut . Masih ada kegiatan berikutnya dihari esok.
Namun sayang kegiatan yang baru setengah perjalanan itu, harus ternodai dengan satu masalah yang cukup besar.
“Guys sory banget, uang donatur dari siswa buat bakti sosial besok hilang 200.000.” panik Annisa yang mendapatkan jabatan sebagai bendahara.
“Lho kok bisa?” tanya Satria yan tak kalah kaget.
“Aku juga gak tahu. Kemarin waktu aku periksa masih utuh, tapi tadi waktu aku cek ulang ternyata ada yang kurang.”jelas Annisa sedikit berkaca-kaca .
Semua yang menjadi panitia dalam kegiatan itu pada kalang kabut, bingung, susah, resah, mikirin satu masalah yang amat gedhe itu. Gimana gak, uang yang hilang itu adalah inti dari rangkaian kegiatan bakti sosial, dimana nantinya akan disumbangkan kepada masyarakat di pinggir kota yang kurang mampu.Jelasnya, yang paling bingung adalah Satria, sang ketua panitia. Mau marah ke bendahara, tapi gak bisa, masalahnya juga bukan seutuhnya salah dia. Alhasil dia jadi serba salah deh.
Ditengah kegusaran teman-teman panitia yang lainnya. Riri malah asyik sendiri dengan buku keuangannya, ngitung anggaran hidupnya yang semakain menipis. Penyakit lama terulang kembali deh.
Dani yang sedari tadi memperhatikan gelagat Riri yang aneh itu, menghampirinya.
“Lagi ngapain? Kayaknya serius banget?” tanya Dani tiba-tiba nylonong.
“Ah gak,gak ngapa-ngapain,”jawab Riri sedikit gugup sambil segera menutup bukunya dan menyembunyikannya dibalik kerudung.
“Apaan sich, penasaran deh,”tanya Dani agak curiga.
“Gak kok bukan apa-apa,” tandas Riri meyakinkan.
“Anak-anak lagi bingung tuh, kamu kok nyantai?”pancing Dani.
“Memangnya bingung apa?”
“Uang buat baksos kan hilang.”
“Masak? Kok bisa?”tanya Riri heran.
“Kamu…,”Dani memasang wajah sinis.
“Apa?”tanya Riri balik kebingungan.
“Kamu gak ambil kan?”tanya Dani tanpa basa basi.
“Ambil apa? Maksud kamu mencuri? Masyaallah, jangan su’udzon. Seumur-umur aku tuh gak pernah berani buat ambil barang orang, apalagi mencuri.”jawab Riri agak emosi.
“Tapi sedari tadi aku lihat, gelagatmu aneh banget dan itu, apa yang kamu sembunyikan?”tanya Dani sambil menunjuk ke arah buku yang disembunyikan Riri.
“Emm…,”Riri diam sejenak seraya mengeluarkan buku keuangannya dari balik kerudung panjang motif bunga-bunga yang ia kenakan.
“Ow…kamu pingin tahu ni apa? Baiklah, tapi kamu harus janji jangan bilang siapa-siapa.”ucap Riri berbisik-bisik sambil toleh kanan-kiri takut ada yang mendengar.
“Apa sih, basa basi banget.”ujar Dani tak sabar .
“Ni…,”Rini menyodorkan buku keuangannya itu dihadapan Dani.
Dani yang awalnya masih bingung, mendadak ingin ketawa geli melihat tulisan yang tertempel di buku Folio berwarna pink itu. Jelas saja ingin ketawa, lha wong tulisannya Buku Hidup dan Matiku. Aneh banget kan.
“Ssstt…,jangan ketawa,” Riri malu sendiri.
“Jadi, selama ini, yang kamu tulis-tulis tuh, ini? Oalah Ri…ri…,kamu tuh aneh banget.”ucap Dani menahan tawa.
“Udah puas? Gak jadi nuduh nyuri lagi kan? Awas kalau bilang siapa-siapa.”geram Riri seraya berlalu meninggalkan Dani yang akhirnya gak bisa nahan ketawanya.
Bisa kebayang gak sih malunya Riri. Rahasia terbesar dalam hidupnya yang selalu ditutup-tutupin selama ini, akhirnya harus dibongkar sendiri, ke cowok yang ditaksir lagi.
Sepanjang waktu, disaat teman-teman masih bingung dan nyari uang yang hilang kesana-kemari. Riri malah duduk tertunduk menahan malu di pojok kelas X-3 yang dijadikan kantor sekretariatan bakti sosial.
Sial…,sial banget…kenapa Dani yang mesti tahu. Aku kan jadi salting, sesal Riri dalam hati.
Waktu sudah bergulir menginjak pukul setengah delapan malam. Ditemani gerimis yang tak kunjung berhenti serta hawa dingin yang mulai merasuk kepori-pori, Satria pun mengambil keputusan untuk mengumpulkan semua panitia dalam satu forum, membentuk suatu lingkaran.
”Oke, karena malam semakin larut dan setelah di cari-cari gak ketemu,dan sampai saat ini juga gak ada yang mau ngaku. Bagaimana kalau kita yang mengganti uang yang hilang itu. Aku rasa teman-teman sekarang juga masih punya uangkan? Lima ribu cukup, itung-itung amal cah.”
Sejenak semua yang mengikuti forum itu terdiam, tapi setelah itu mereka menyatakan setuju. Ada yang menjawab dengan kata-kata,entah itu secara lantang ataupun berbisik-bisik, dan ada pula yang menjawabnya hanya dengan menganggukan kepala.
Lain halnya dengan Riri yang sudah pasti gak suka dengan keputusan itu, meski gak memberi jawaban pasti apa dia setuju atau gak.
Hah?Urunan?Gak salah apa? Aku ngirit-ngiritin duit, rela cuma makan sekali sehari, akhirnya kudu urunan. Hello?Apa gak salah? keluhnya dalam hati.
Tapi apa boleh buat, suara minoritas dalam sebuah forum biasanya gak pernah dianggap. Dari pada buang tenaga percuma, akhirnya Riri terpaksa menyetujui kesepakatan itu.
“Kudu ikhlas Ri,”ledek Dani yang berada tepat dibelakang Riri.
“Maksudnya?”tanya Riri balik sambil memutar posisi duduknya agak serong ke belakang.
“Kalau urunan harus bisa ikhlas, percuma kalau gak, udah ngrundel, gak dapet pahala lagi, rugi berlapis itu namanya.”jelas Dani yang sepertinya sudah tau akan sifat aslinya Riri yang pelit abis.
“Ah, sotoy kamu,”jawab Riri berusaha tidak menghiraukan.
Satu masalah selesai, semua panitiapun bisa bernafas lega dan tepat pukul sembilan malam mereka bisa istirahat di rumah masing-masing melepas segala penat dan lelah setelah menguras tenaga ekstra seharian.
***********
Langit pagi ini tampaknya memang sedang bersahabat. Cuacanya cerah, terang benderang, tidak seperti satu minggu belakangan ini, yang selalu dirundung mendung dan hujan deras.
Kegiatan bakti sosial diakhiri dengan memberi sumbangan ke salah satu daerah terisolir di Kediri, dan sebagian disumbangkan ke panti asuhan.
Bisa dibilang hari ini kegiatan berjalan dengan sukses. Semua sumbangan sudah meluncur ke tempat-tempat yang udah diplaningkan, dengan aman dan tanpa gangguan apapun.
Sedang Riri yang semalam sedikit rela melepaskan kepergian uang lima ribunya, kini mungkin bisa sedikit mengikhlaskannya.
Pasalnya ketika ia berkunjung ke panti asuhan. Hatinya terketuk pada seorang anak yang kondisi tubuhnya kurus kering, yang hanya bisa tidur dikasur yang kalah jauh empuknya ama kasur di rumah Riri. Pokoknya kondisinya parah abis.
Ketika ditanya kepada pengasuh panti asuhan itu. Alisa -gadis yang tubuhnya kurus itu- semenjak balita telah dibuang orang tuanya dengan kondisi yang demikian. Pokoknya ceritanya memilukan banget. Riri aja yang anaknya kebal akan rengekan, tiba-tiba jadi metal, alias melankolis total.
Gak sia-sia Riri ikutan kegiatan ini. Bisa dibilang kegiatan yang cukup bermanfaat, dan sedikit madhorotnya. Yang jelas bisa mengajari dia akan arti syukur yang selama ini gak terasa selalu ia tepis jauh-jauh dari kamus hidupnya.
Memandang hidup memang seharusnya kedepan, untuk meraih masa depan yang setinggi bintang. Tapi ada kalanya kita juga harus bisa menoleh kebelakang, dimana kita diharapkan bisa mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya pada kita. Masih banyak yang lebih parah dari kita guys.
Semenjak itu.Riri mulai bertekat dalam dirinya sendiri. Harus bisa dirubah,aku gak boleh pelit. Ya,mesti gak berubah seutuhnya sih, tapi apa salahnya dicoba.
TAMAT
Label: cerpen Qta

